Agar Salam Tidak Menjadi
Mawar Tanpa Aroma
»»
#sÎ)ur LäêÍhãm 7p¨ÅstFÎ/ (#qyssù z`|¡ômr'Î/ !$pk÷]ÏB ÷rr& !$ydrâ 3
¨bÎ) ©!$# tb%x. 4n?tã Èe@ä. >äó
Óx« $·7Å¡ym ÇÑÏÈ “
“apabila
kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhi tungkan
segala sesuatu.”(QS AL-Nisa’ [4]: 86)
[327] Penghormatan dalam Islam Ialah: dengan
mengucapkan Assalamu'alaikum.
Setiap gerak-gerik, tingkah laku, dan perbuatan sekecil
apapun,sekalipn pengucapan salam, sesuatu yang kita anggap remeh memiliki
pertanggungjawaban. Orang yang menerima salam memiliki tanggung jawab jauh
lebih besar dari pada si pemberi salam. Atas dasar inilah ayat Al-Quran di atas
membahas terperinci dengan masalah ini.
Jika seseorang menyampaikan salam
kepada anda, maka jawablah dengan yang lebih baik atau setidaknya dengan
jawaban yang sepadan. Karena, sejatinya orang yang mengucapkan salam kepada
anda mengawali tindakan untuk menebarkan keutamaan, lalu dengan tulus
mengharapkan ketulusan bagi anda, memercikan kebahagiaan pada diri anda, dan
mengikis rasa takut anda, serta menjadi ketentraman ganda bagi anda dan bagi
orang yang mengucapkan salam itu sendiri.
Hal semacam itu mungkin anda sering
alami, tetapi anda tidak menyadarinya. Misalnya, suatu ketika anda sedang sendiri dan melintas tempat yang
gelap gulita sehingga membuat anda ketakutan, seolah-olah anda melihat bayangan
yang anda yakini hantu sekelebat di dekat anda, dan betapa terkejutnya anda ketika
bayangan itu adalah saudara anda sendiri yang lantas mengucapkan salam kepada
anda. Pada saat itulah saudara anda menjadikan keselamatan bagi anda, hingga
mampu mengubah kondisi anda secara total. Membuat anda berjalan lebih gigih sehingga
dapat dipastikan anda lebih produktif, dan pada akhirnya anda bisa kembali ke
masyarakat dengan penuh aura kebaikan.
Ini menjelaskan dimensi lain dari
ajaran agama islam. Islam menyetujui anda membalas perlawanan sebagai wujud
keadilan, sebelum islam menyuruh anda melakukan kebaikan untuk meraih
keutamaan.
Memang benar, barang siapa memaafkan
dan berdamai, dapat menjauhkannya dari mala petaka, dan pasti akan dapat
kebaikan dari Allah. Namun, sejatinya Allah menyuruh anda untuk meraih
keutamaan terlebih dahulu sebelum meminta anda berlaku adil, karena di dunia
ini anda hidup dalam masa damai di mana jiwa anda merasakan kebahagiaan bersama
sahabat-sahabat terbaik yang selalu menyemarakan kehidupan anda, sehingga
ucapan salam pun sering menghampiri anda. Dengan demikian anda lebih siap dan
lebih mungkin untuk meraih keutamaan dan meniupkan rasa aman dengan cara yang
lebih baik dalam kegembiraan jiwa anda. Sedangkan terjadinya rasa sakit, atau
kegelisahan dalam diri anda sejatinya sebanding dengan kondisi sulit yang
sedang anda alami, karena keadilan menanggung keadilan.
Jika itu semua kewajiban orang yang
menerima salam, maka orang yang memberi salam seharusnya ikut bertanggung jawab
dalam proses terciptanya momen yang membahagiakan tersebut.
Maksud saya di sini adalah , ingin
mengingatkan bahwa sebagian orang menyampaikan salam kepada anda dengan
menggunakan bahasa angka! Lalu menghintung-hitungnya dan menimbang-nimbangnya?
Yaitu menghitung – hitung pahala salam yang akan di balas berdasarkan jumlah
kata yang diucapkan yang sesuai apa yang diriwayatkan dalam sunnah Nabi.
Ketika orang-orang semacam ini
menyampaikan salam, pasti dengan raut muka yang antusias, jidat yang mengerut,
dan tatapan mata yang tajam, seperti pedagang yang menawarkan barang
dagangannya pada anda, lalu meminta anda memberikan harga yang pantas! Padahal
kenyataannya dia tidak memberikan anda ketenangan jiwa, walaupun salam telah
diberikan dengan sedemikian rupa, dengan susunan kata-kata yang sudah ditentukan,
sehingga kesannya menjadi begitu mulia.
Seharusnya salam disampaikan dengan
wajah yang berseri, ungkapan yang spontan, dan senyuman yang rendah hati
sehingga membuat salam syarat dengan makna dan nilai, bahkan kadang kala tak
perlu ungkapan sepatah kata pun, cukup dengan sesungging dengan senyuman yang
tulus.
Salam yang disampaikan tanpa semangat
dan ruh bagaikan mawar tanpa keharumannya, seperti shalat tanpa berjamaah. Tak
ubahnya hanya seperti not-not dalam ilmu syair, dan bagaikan lautan tanpa air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar